Instagram nanura
nanura

aku suka berimajinasi, memainkan angan di antara semunya kenyataan.

Ask me :)
1:54 PM
July 22nd, 2014
i laughed when saw it :3 lucccccccccccccccccccuuuuuuuuuuuuuuuuuuu


i laughed when saw it :3 lucccccccccccccccccccuuuuuuuuuuuuuuuuuuu

(Source: catleecious, via adi-fitri)

12:43 PM
July 12th, 2014
Dalam hidup kau harus menemui 3 orang….Orang yang tidak mencintaimu, orang yang mencintaimu, dan orang yang mencintaimu kemudian tidak mencintaimu

(via rrestumalianty)

dan sayangnya kita sulit membedakan mana yang mencinta :(

12:13 PM
July 12th, 2014
😊

anditanovita:

Satu terasa sepi, tiga terlalu sesak. Rasanya cinta yang pas memang hadir hanya untuk dua orang saja.
Kepada kamu masa laluku, meski kita punya satu masalah yang belum terselesaikan, tapi aku berterimakasih. Karenamu, aku tahu bagaimana caranya menjaga sebelum kehilangan. Bagaimana mencintai…

11:19 AM
July 11th, 2014
Ramadhan #13 : Menjadi Dedaunan Pohon

kurniawangunadi:

Tulisan ini adalah tulisan 13/30 selama bulan Ramadhan 1435 H. Dimuat selepas subuh, semoga bermanfaat.

Hidup kita seperti dedaunan pohon. Tumbuh dari kecil hingga menjadi besar. Hingga daun mampu menangkap sinar-sinar matahari dan membuatnya menjadi bermanfaat. Daun yang memberi kehidupan…

2:04 PM
July 8th, 2014

Kehilangan Sesuatu?

"Ibu liat flash dish aku ngga?" Tanyaku sembari membuka laci. "Mana, Ibu, tahu," sahut Ibu, yang sudah biasa menghadapi diriku yang masuk dalam kepanikan. "Kemarin aku liat di sini tapi sekarang ngga ada, di meja ruang tamu juga ngga ada, pasti Fahmi (adikku), nih. Di mana, sih?" kataku.

Di atas adalah contoh dialog saat aku kehilangan flash dish. Saat tidak dibutuhkan selalu nampak, ketika dibutuhkan mendadak hilang. Kamu pernah merasa seperti ini? Dicari tidak ditemukan. Kata Ayah, sih, karena aku mencarinya pakai emosi jadi kurang awas. Mencoba menghubungkan ingatan, napak tilas, tetap saja jawaban buntu. Tidak ada petunjuk yang nampak. Panik, kata Ibu itu salah satu penyebab barang sulit ditemukan. “Yang tenang, dong, kalo nyari apa-apa. Kamu kebiasan, dasar teledor (ceroboh),” ujar Ibu yang mulai kesal dengan sikapku. Kemudian aku cari perlahan dan ternyata… Voila! terselip di dalam tas. Aneh.

Sepele kan? Tapi, kita tidak pernah sadar yang sepele itu bisa jadi tauladan untuk situasi yang lain. Misal, kamu kehilangan orang terkasih. Kemudian, mulai mencari dari sudut a-z, dari titik 0 sampai akhir, tetapi “tidak” menemukan apa yang diingini. Alasan kurang cocok, beda prinsip, atau tidak sesuai dengan tipe. Minta tolong bantuan teman, bantuan keluarga, tetapi wujud orang terkasih idamanmu tidak muncul. Kemudian, kamu mulai menyalahkan diri sendiri, merendahkan diri sendiri. Secara tidak sadar kamu seperti diburu waktu, “kapan nikah”. Lalu, gegas mencari. Pikiran jadi delusional. Menghubungkan masa lalu, bahwa dia yang lampau adalah bagian hidup kita kelak. Dard! Ternyata salah. Kembali merenung.

 ”Cari yang tenang, nanti datang sendirinya. Buka hati”

Ya, harusnya hati sikapnya sama seperti mencari flash dish, tenang. Rezeki ngga kemana, kan? tidak ada yang tahu, orang yang selalu kita cari, dekat dengan kita. Selalu tampak tapi hati terlalu buta merespon.

2:39 PM
June 25th, 2014

adi-fitri:

"Just because we wear the hijab and cover up, does not make us perfect Muslims,"
A comic adaptation from a post on another tumblr blog.
(While the words are from an actual exchange, the situations depicted are purely fictional. Any similarities to persons living or departed are coincidental and no offence was intended.)
Wallahua’lam

3:26 PM
June 2nd, 2014

Ketika Harga Diri Angkat Bicara

Harga Diri: Kamu suka sama dia?
Aku: Suka. Banget.
Harga Diri: Lalu, kenapa kamu nggak menunjukkan sama dia bahwa kamu suka?
Aku: Kan udah?
Harga Diri: Itu belum cukup. Kamu belum pernah ngomongin perasaan kamu yang sebenarnya ke dia kan?
Aku: Duh! Aku kan perempuan!
Harga Diri: Terus kenapa?
Aku: Perempuan itu nggak boleh nembak duluan kan?
Harga Diri: Siapa yang nyuruh kamu nembak?
Aku: Jadi gimana dong caranya supaya dia tau perasaanku?
Harga Diri: Bilang bahwa kamu kangen. Bilang bahwa kamu senang ketika bersama dia.
Aku: Tapi aku malu...
Harga Diri: Berarti kamu belum terlalu suka sama dia!
Aku: Aku suka banget sama dia!
Harga Diri: Terus, apa yang menahan kamu untuk nggak ngomong soal perasaan ke dia?
Aku: KAMU!
Harga Diri: Aku? Kenapa aku? Kamu jangan mikirin aku kalau kamu benar-benar suka sama dia.
Aku: Nggak apa-apa memangnya? Kamu nggak keberatan?
Harga Diri: Ya nggaklah! Toh kalian sama-sama belum punya pacar. Toh kamu dikenal sebagai perempuan baik-baik, dan dia juga sepertinya orang baik. Nggak ada salahnya kan, ketika dua orang yang masih sendiri saling suka?
Aku: Iya sih...
Harga Diri: Lain kasusnya, kalau dia atau kamu sudah berpasangan. Atau, kamu hanya kepengin sesuatu yang lain dari dia. Atau, dia hanya kamu jadikan cadangan. Itu baru salah.
Aku: Jadi nggak apa-apa nih, kalau aku bilang kangen sama dia?
Harga Diri: Nggak apa-apa banget! Malah bagus kan?
Aku: Gimana kalau dia jadi merasa terganggu setelahnya dan nggak nyaman?
Harga Diri: Aku percaya dia nggak begitu. Setidaknya, dia jadi bisa mengambil sikap. Juga kamu.
Aku: Aku nggak siap kalau gara-gara ngomongin perasaanku dia jadi menjauh.
Harga Diri: Ya nggak apa-apa juga kan? Kamu jadi nggak membuang-buang waktu.
Aku: Iya juga sih...
Harga Diri: BTW, lain kali jangan nyalahin aku lagi ya!
Aku: Hehe. Nggak kok. Kamu itu penting buat aku, makanya aku memperhitungkan kamu, Harga Diri :)
Harga Diri: Terima kasih untuk itu, tapi ada kalanya kamu nggak usah memusingkan aku, ada kalanya kamu jangan menilai aku terlalu tinggi.
Aku: Baiklah. Terima kasih untuk masukannya, Harga Diri. Tapi kamu yakin dia nggak akan keberatan dengan perasaanku?
Harga Diri: Wah, itu sih bukan urusanku lagi. Kamu harusnya menanyakan hal ini kepada saudaraku, Percaya Diri. Bukannya dia seharusnya ada di dalam dirimu ya?
11:11 PM
May 19th, 2014

You’re more precious than you think

Ini cerita saya adaptasi dari sumber di tumblr, tapi saya lupa apa namanya :) Kalau ada kesalahan setting, maaf, ya, karena saya karang, tetapi inti cerita tetap sama.

Ini kisah tentang betapa berharganya nilai uang. Kisah ini dicontohkan oleh salah satu profesor dari universitas ternama di Inggris. Saat itu beliau berdiskusi dengan mahasiswanya. Ia tiba-tiba mengeluarkan uang 100 dollar dari kantong jasnya.

"Kau mau uang ini?" tanya profesor pada mahasiswanya.

Serentak mereka menjawab, “ya”.

"Berapa nilai uang ini?" Tanyanya lagi.

"100 dollar, Sir," sahut mereka serentak. Terbesit kebingungan di raut mereka.
Kemudian profesor itu meremas uang yang dipegangnya sedari tadi.

Ia kembali mengajukan pertanyaan, “Berapa nilai uang ini?”

"100 dollar," jawab mereka.

"Siapa yang mau uang ini?" Profesor kembali bertanya. Para mahasiswa serentak mengacungkan jari.
Profesor tak segera memberikan uang itu pada mahasiswanya. Ia malah meremas lagi, kemudian menginjaknya.

Kembali ia mengajukan pertanyaan, “berapa nilai uang ini?”
Jawaban masih sama: 100 dollar. Respon mereka pun masih sama ketika profesor menawarkan uang itu.

Kemudian profesor itu memasukkan kembali uangnya ke dalam kantong jasnya.Terdengar rasa kecewa dari mahasiswanya.

"Tenang-tenang! Saya ingin menjelaskan," sahut profesor membela diri. "Kalian tahu uang ini, adalah kalian," segera ia menambahkan. Para mahasiswa diam karena heran, termangu menunggu pernyataan profesor.
“Uang ini walaupun beberapa kali diremas, bahkan saya injak. Nilainya tetap sama. Dan masih banyak yang ingin memilikinya. Uang ini adalah kalian. Ketika kalian merasa tidak berharga, tidak percaya diri karena keadaan, terdesak dalam masalah, kalian masih tetap berharga. Masih ada orang yang bisa menilai betapa berharganya diri kalian. Jadi, percayalah pada diri kalian sendiri,” jelasnya.

Saya pun suka merasa tidak percaya diri, membandingkan yang saya punya dengan yang lain. “Dia cantik, pantes pacarnya ganteng.” “Dia pintar, pantes dapat beasiswa.” “Dia berani, pantes lolos interview.”
Kemudian, saya hanya diam. Buta akan diri sendiri, tak tahu nilai pribadi. Intinya saya mudah minder, mudah merendahkan diri sendiri. Saya suka lupa kalau tiap orang pasti punya kelebihan, punya berlian walau mesti masuk proses pengasahan. Semoga kalian sama seperti saya bisa mengambil hikmahnya
Jangan buang kuncimu, bahkan kamu belum tahu ruang yang akan kamu jelajahi.

Oh, ya saya pernah dikirimin teman video youtube dari salah satu brand kecantikan, yang intinya: hanya orang lain yang dapat melihat berharganya kita. Saya sendiri nangis hahahahahah.

You’re more beautiful than you think. (click the link!)

Salam,

Nadya yang masih membangun percaya diri :D

6:24 PM
May 18th, 2014
Paspor Sejak Mahasiswa, Penting (Nggak) Ya?

rajour:

Tulisan ini dibuat berangkat dari tulisan seorang Guru Besar Universitas Indonesia, seorang sociopreneur yang menginspirasi saya, Pak Rhenald Kasali. Berikut tulisan beliau :

image

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport….

saya sempat membaca postingan teman fb: yang membandingkan kecerdasan manusia berdasarkan perilaku setelah lulus. Objek sama-sama mahasiswa cumlaude. Objek pertama melanjutkan pendidikan ke luar negeri, objek kedua mengabdi untuk rakyat Indonesia. Dia mengistimewakan objek kedua. Andai ia tahu, kecerdasan dinilai bukan dari itu saja. Berpikir secara global kemudian mengabdi itu lebih baik :)